Sebuah laporan yaitu dari badan intelijen dan juga badan keamanan Amerika Serikat (FBI) yang dimana menyoroti sebuah kejahatan yang dilakukan di internet. Di dunia maya yang dimana sekarang ini menjadi salah satu hal yang paling menghancurkan dengan sebuah kerugian yang dilaporkan yaitu melebihi US$ 3,5 miliar yaitu pada tahun 2019. FBI dimana juga mendasarkan pikirannya ini yaitu kepada 467.000 pengaduan yang dilakukan oleh publik ke wilayah Internet Crime Complaint Center atau yang dikenal dengan (IC3) yang dimana ada pada 2019. Menurut laporan tersebut, dimana kejahatan yang biasanya paling tinggi yaitu adalah sebuah kejahatan dengan modus penukaran kartu SIM yang ada. 

Kejahatan Internet yang Harus Diwaspadai

Dalam pertukaran kartu SIM tersebut, operator nirkabel yang ditipu untuk mengalihkan SIM yang biasanya terhubung ke pelanggan sbobet88 ke pada SIM kriminal. Contohnya yaitu sebuah kasus yang dimana terjadi dan berpusat di San Francisco, tentang penangkapan seorang pemimpin kelompok dari penukar SIM yang dimana  menyebabkan penyitaan yaitu lebih dari US$ 18 juta, lima buah kendaraan, rumah yang senilai US$ 900 ribu, dan juga sejumlah perhiasan dengan nilai ratusan ribu dolar,yang sudah didapatkan oleh FBI. Sekarang ini dimana kejahatan di internet menjadi sebuah hal yang sekarang ini sedang tumbuh sangat subur. Berikut ini yaitu adalah kejahatan internet yang harus anda waspadai dan juga menjadi fokus yang dilakukan oleh FBI. 

Pengelabuan (phishing)

Model dari sebuah pengelabuan ini sendiri yang dimana mencakup banyak sekali kategori kejahatan. Korban phishing dan juga kejahatan terkait hal tersebut yang diketahui yaitu berjumlah 114.702 korban. Sejauh ini dimana jumlah terbesar dengan kerugian total yaitu hampir US$ 58 juta tahun lalu.

Phishing sendiri didefinisikan FBI sebagai sebuah email yang tidak diminta, pesan teks, dan juga sebuah panggilan telepon yang konon katanya semuanya berasal dari perusahaan sah dan juga meminta kredensial pribadi, finansial, dan atau juga login. Untuk penjahat, phishing itu adalah sebuah hal yang murah, mudah, sulit untuk dapat dilacak, dan tentunya sering kali efektif.

Ini yang dimana sering mengarah pada sebuah jenis serangan lain, termasuk dengan ransomware, pelanggaran dari data, pencurian  tentang identitas, dan juga tentang kompromi sebuah akun email. Hal ini yang diungkapkan oleh Paul Bischoff, yang merupakan peneliti dan juga penasihat privasi dari Comparitech, yang dimana  menyediakan layanan untuk keamanan dan privasi data, kepada Fox News.

Email palsu

Dimana pada tahun 2019 sendiri tercatat sebanyak 23.775 kompromi email bisnis dan juga kompromi tentang sebuah akun email dengan sebuah kerugian yaitu lebih dari US$ 1,7 miliar. Tujuan dari kejahatan tersebut yaitu adalah untuk dapat mentransfer dana yang ada dari bisnis atau juga sebuah perorangan ke orang jahat lainnya. Modus ini sendiri adalah sebuah modus yang dilakukan dengan mengkompromikan akun email yang sah melalui rekayasa sosial atau juga melalui sebuah peretasan. FBI yang dimana mengutip sebuah kejahatan tertentu yang ada seperti sebuah akun email tentang pengacara palsu dan juga tentang sebuah permintaan penipuan untuk sebuah informasi.

Ransomware

Dalam serangan ransomware, data dan juga file penting yang dimana menjadi salah satu yang dienkripsi dan juga dikunci, akses diblokir, hingga nantinya tebusan akan dibayarkan. Pada 2019, IC3 sendiri yang dimana menerima sebanyak 2.047 keluhan yang juga diidentifikasi sebagai ransomware dengan sebuah kerugian yang dicatat yaitu lebih dari US$ 8,9 juta.

Membayar sebuah uang tebusan yang dimana menjadi salah satu hal yang tidak menjamin sebuah organisasi akan mendapatkan sebuah akses kembali tentang sebuah akses ke datanya, hal tersebut sama halnya seperti yang dikatakan oleh FBI, menambahkan bahwa organisasi yang juga sering kali tidak pernah diberikan sebuah kunci dekripsi setelah mereka membayar uang tebusan tersebut.

FBI yang dimana tidak mengutip salah satu dari tren ransomware terburuk yang ada yaitu pada tahun 2019, yang  dimana disebut keluarga ransomware Maze. Dalam tindakan ini, penjahat yang juga biasanya akan mengancam untuk mempublikasikan semua data curian jika korbannya yang tidak mau membayar tebusan.

Penipuan yang didukung teknologi

Pada 2019, IC3 yang dimana telah menerima 13.633 pengaduan yang dimana juga menjadi salah satu hal yang terkait dengan sebuah kasus penipuan dengan menggunakan sebuah dukungan teknis. Kerugian yang disebabkan yaitu berjumlah lebih dari sekitar US$ 54 juta, angka tersebut yang dimana juga nantinya akan dapat melonjak yaitu sekitar 40 persen yang ada dari tahun 2018.

Mayoritas yang dimana korban yang biasanya ada dan di atas 60 tahun. Dalam satu kasus yang dimana juga dikutip oleh FBI, seorang pria dari North Carolina yang diketahui telah kedapatan mencuri lebih dari US$ 3 juta dari ratusan korban. Dia yang dimana membohongi mereka untuk dapat membayar layanan dukungan teknis yang  juga diakui untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Penipuan orang lanjut usia

Penipuan finasila ini yang biasanya adalah sebuah penipuan yang akan didominasi dengan target mereka yang sudah berusia di atas 60 tahun. Pada 2019, IC3 yang dimana juga dapat menerima 68.013 pengaduan yang ada dari para korban dengan sebuah kerugian yang diperkirakan lebih dari US$ 835 juta. Kejahatan yang dimana paling umum termasuk juga sebuah penipuan investasi, penipuan romansa, penipuan tentang dukungan teknis, penipuan peniruan dari pemerintah, dan penipuan mengatas namakan keluarga atau juga pengasuh.

Carding

Carding sendiri yaitu sebuah istilah yang biasanya akan digunakan untuk dapat menyebut penyalahgunaan tentang sebuah informasi kartu kredit yang digunakan milik orang lain. Para carder atau yang biasanya disebut dengan pelaku carding biasanya mereka yang akan menggunakan sebuah akses dari kartu kredit. Penipu yang akan menggunakan kartu kredit dari Orang lain untuk membeli sebuah barang belanjaan yang akan dibeli secara online. Kemudian, barang gratisan tersebut yang nantinya akan dijual kembali dengan harga yang murah untuk mendapatkan sejumlah uang.

Tindak kejahatan digital dengan melakukan sebuah cara carding ini adalah sebuah kejahatan yang biasanya kerap kali terjadi di luar negeri. Sementara untuk para pengguna di Indonesia sendiri dimana angka kasus yang juga tercatat belum terlalu besar seiring dengan masih minimnya orang yang menggunakan kartu kredit yang  dimana gemar bertransaksi di dalam dunia maya.

Defacing

Di antara semua tindakan yang dilakukan dalam cyber crime sebelumnya, ada yang disebut dengan Defacing. Jenis kejahatan ini sendiri yang bisa dibilang menjadi sebuah aktivitas kejahatan online yang umumnya paling ringan. Hal tersebut yang dimana menjadi salah satunya karena para pelaku yang ada dari deface biasanya akan menyasar website-website non-profit seperti halnya sebuah situs pemerintahan, sekolah, atau juga situs universitas.

Itulah beberapa jenis kejahatan yang bisa terjadi dengan mudah di dunia maya. Dimana kita sebagai pengguna internet yang aktif tentunya kita yang juga harus waspada dengan kejahatan tersebut. Untuk artikel lainnya mengenai internet, anda dapat mengecek beberapa artikel kami yang lainnya.